Daily Insight

“Zakat untuk jihad fi sabilillah di era modern dapat diberikan kepada para pemuda bermental baja untuk membangun kekuatan dakwah dalam rangka pengabdian kepada agama, menghidupkan cahaya Islam, membendung umat dari serangan musuh dan membangkitkan pemuda-pemuda lain yang masih terlelap dalam tidur panjang mereka” – Yusuf Al Qaradhawi

Daily Insight

Be Careful What You Look For.

Kamu pernah ngerasa nggak sih kalo apa yang terjadi dalam hidup kita tuh selalu penuh dengan kebetulan tapi dalam kebetulan-kebetulan yang terjadi tuh kamu baru sadar kalo semuanya itu selalu mengarahkan pada sesuatu yang sedang kita cari selama ini? Pernah nggak?

Jadi aku mau sharing deh, belakangan ini aku lagi merefleksikan kembali tentang apa-apa yang terjadi dalam hidupku. Maklum, aku baru memasuki dunia baru karena aku baru aja pindah kerja. Dalam teori The Network Effects, dimana kita bekerja itu akan sangat mempengaruhi tentang bagaimana kualitas diri kita kedepannya dan akan membuka kesempatan-kesempatan kita kedepannya. Tapi tenang, aku nggak akan bahas tentang the Network Effects ini, tapi aku pengen sharing aja tentang betapa takjub nya aku terhadap skenario Allah yang selalu membukakan jalan-jalanNya dengan cara tak terduga untuk bisa meng-amin-kan apa yang aku inginkan selama ini.

Semua bermula dari sini..

Mengingat kembali sebuah momen dimana aku galau banget menentukan arah hidup, saat itu tahun 2018. Sebuah momen dimana aku merasa iri dan mupeng luar biasa sama dua orang influencer yang cukup berpengaruh pada diriku masa itu. Aku menceritakan semuanya disini. Momen itu kayaknya jadi puncak dari sekian banyak proses panjang pencarian diri. Waktu itu aku ngeliat video 2 influencer itu sampe bener-bener nangis kayak bener-bener ngarep banget pengen jadi mereka. Ya, aku semacam makin yakin sama ‘calling’ yang udah banyak diperlihatkan dalam kehidupanku. Dari situ aku berazam pada diri sendiri, “oke, gue mau jadi kayak mereka”, “aku mau jadi changemakers“, “aku mau bikin inovasi atau gerakan atau apapun itu yang bisa membantu orang banyak”, “aku mau jadi manusia yang benar-benar bermanfaat”. Clear.

Cuma sayangnya pada saat itu aku bingung mulai dari mana. Aku pegang saat itu cuma kata-kata dari Mahatma Gandhi, “Be the change you want to see in this world” dan kata-katanya John C. Maxwell yang bilang, “Begitu sering kita ingin mengubah dunia, namun rasanya lebih mudah membicarakan perubahan yang seharusnya dilakukan oranglain ketimbang menyingsingkan lengan baju dan melakukannya sendiri

Dua quote itu deep banget buat aku sampe hari ini. Ya, mulailah dari diri sendiri. Perbaiki akhlak, punya kepribadian yang baik, bantu dari hal terkecil untuk orang-orang di sekitar kita. Udah. Selebihnya aku bener-bener clueless dan ga tau harus ngapain lagi. Jadi cuma jalanin apa yang aku udah jalani aja. Seiring berjalannya waktu, sekarang aku baru sadar kalo sebelum aku berkomitmen untuk jadi changemakers, ternyata Allah tuh udah ngebukain jalanNya seolah-olah Dia udah tau kalo nanti aku pasti mau jadi changemakers. Padahal emang udah tau sih, kan Dia Maha Mengetahui. Tapi skenarioNya itu loh yang bikin aku speechless yang kadang suka bikin nangis karena terharu. Akkk 😢

Lanjutkan membaca “Be Careful What You Look For.”
Daily Insight

Learning to Love My Weakness

“Syukurlah kalau kamu kaya gitu. Saya ga bisa. Saya orangnya perasa dan pemikir” – ujar senior ku kemaren.

Ada satu karakter dalam diriku yang dari dulu sebenernya aku kurang suka dan berusaha buat menyingkirkannya, yakni cuek. Hidup sebagai orang yang nggak peka itu nggak enak banget asli. Aku tau segimana keselnya orang-orang di sekitarku akan kecuekanku ini dan gegara itu ku juga jadi kesel sama diriku sendiri.

Apalagi sebagai perempuan yang stereotipnya selalu dianggap peka, sangat perasa, paham bahasa tersirat, tau kebutuhan oranglain tanpa mereka menyebutkan mau apa. Entahlah dari mana datangnya stereotip itu tapi itu bener-bener ngasih pressure tersendiri buatku saat itu. Huhu. Dikira perempuan itu cenayang kali begitu? 😪

Asli deh ku pernah ada di tahap dimana udah berusaha jadi orang yang peka dan perasa, tapi hasilnya ga signifikan dan selalu di bawah rata-rata. Sampe ngebatin “kenapa sih harus jadi orang cuek? Kenapa sulit amat buat diubah yaAllah??”. Astaghfirullah..

Hingga ada di suatu titik dimana aku menyadari bahwa ternyata cuek itu menjadi suatu basic skill yang bisa menjaga kewarasan diri kita ketika memasuki tahap adulting life. Dan makin banyak ketemu orang jadi makin tau juga kalo ternyata ga banyak orang yang bisa secuek itu.

Lanjutkan membaca “Learning to Love My Weakness”
Daily Insight · Youth Empowerment

What I see in young people

Ternyata memang benar ungkapan kalo mau dapet banyak pahala kebaikan yang akan terus mengalir dan menjadi salah satu leverage point paling strategis yang bisa dilakukan adalah dengan cara mengambil intervensi kepada anak muda.

Secara kapasitas mereka cukup unggul dalam melesatkan dampak. Belum lagi kalo mereka punya kompetensi, komitmen dan kemauan untuk bertumbuh.

Dari hasil pengamatanku ya, sebenernya anak muda (khususnya mahasiswa) mereka tuh kek punya modal yang sama yang kalo bisa disalurkan ke hal-hal positif tuh bisa cepet banget improve-nya, diantaranya:

1) Mereka punya energi yang besar
2) Mereka merdeka secara pemikiran
3) Mereka punya idealisme
4) Mereka punya waktu yang cukup banyak

Ketika kita berhasil menggerakkan anak muda yang bener-bener potensial untuk makin melesatkan potensinya, sama aja sedang menyusun batu bata perbaikan peradaban untuk bangsa dan negara. HOS Tjokroaminoto salah satu contoh konkritnya.

Mengutip kata-katanya Roosevelt, “We cannot always build the future for our youth, but we can build our youth to the future.”

Bagiku, mahasiswa itu spesial. Mereka unik. Mereka keren. Pemikiran mereka gokil. Mereka inspiring. Mereka punya harapan. Itu yang kadang bikin aku ngerasa seneng aja gitu kalo bareng mereka dan bisa sharing ide dan perspektif. Hasil obrolannya akan selalu melahirkan ide-ide gila dan jadi makin kaya wawasan dan referensi dari mereka.

Ngomong gini kek jaraknya jauh banget gitu ya. Padahal cm beda 3-4 tahun doang wkwk. Jadi ya masih nyambung gitu kalo ngobrol sama mereka tuh. Itung-itung lagi belajar banyakin pengalaman kalo ntar punya anak remaja ga kaget-kaget amat dan tau cara treatmentnya. Eh. Wkwk.

NB: Sebuah kehormatan bisa membersamai mereka 3 bulan ini. TLE Student Intern. Huhuhu. Sedih :’)

#livepurposelydriven

Daily Insight

I know my purpose and I’m just tappin into it

Dulu saat masih jadi mahasiswa udah mewanti-wanti banget kalo aku nanti akan menghadapi dunia pasca kampus yang penuh lika luka, drama, ujian, tantangan yang stressful, penuh persaingan, dan semua orang berlomba-lomba mencari pencapaian diri for the sake of materialistic goods.

Sampe dulu kadang pernah kepikiran kira-kira mungkin ga ya karir perdana ku bisa langsung nemuin ikigai-ku? Walaupun ngerasa ga mungkin juga sih soalnya ya kali masih freshgraduate udah banyak mau dan pilih-pilih tempat kerja. Hahaha. Tentu butuh proses pencarian dan pengalaman yang cukup panjang hingga menemukan pelabuhan terakhir, tempat dimana langsung dapet keempat aspek IKIGAI tadi. Yaitu tempat yang bisa ngasih manfaat, sesuai dengan passion dan keahlian, bisa menghidupi diri dan keluarga dari situ dan bener-bener seneng ngejalaninnya. Butuh waktu sih, tapi nggak papa.

Lanjutkan membaca “I know my purpose and I’m just tappin into it”
Daily Insight

Protect your energy

Kalo kita nggak disibukkan dengan hal besar, kita akan terfokuskan pada hal kecil yang remeh dan nggak menambah nilai diri.

Kadang sering bertanya-tanya kok belakangan ini sering ngerasa capek ya? Kok sering ngeluhin ini itu ya? Kok rasanya ingin berhenti ya? Kok aku bawaannya jadi sering kritik ini itu dan segala kekurangannya yang ada disini ya?

Kok lingkaran aku yang tadinya jadi support system karena satu nasib dan satu frekuensi tapi makin kesini kenapa malah vibes nya malah jadi ga ngasih manfaat ya? Kenapa malah jadi keseringan ngomongin kekurangan orang ya? Kenapa makin menyudutkan orang ya?

Kok lama-lama bosen ya dengerin itu mulu? Yang tadinya menikmati bahan ghibah dan mengeluh bersama, kok sekarang malah jadi tersadar kalo ini cuma buang-buang energi, nggak nambah value diri, nggak bikin berkah dan cuma bikin capek sendiri.

Padahal kalo dipikir-pikir masih banyak hal lain yang bisa dilakukan dan dipikirkan. Cuma sayangnya energinya udah terkuras duluan gegara hal-hal non-sense tadi. Huhuhu.

Kemudian tanpa sengaja 3 hari lalu ku diingatkan kembali pada bio twitter aku yang entah kenapa rasanya pas baca itu kok rasanya menohok sekali. Disitu tertulis, “Live purposely driven. Currently blossoming myself into a self-sufficient women with more faith than fear. I extremely protective of myself, my time and my energy.”

Lanjutkan membaca “Protect your energy”
Daily Insight

Let’s end this year off as best as we can

Photo by @MFaizGhifari (twitter)

Ga kerasa ya sekarang udah masuk hari pertama bulan Oktober. Asli, semenjak pandemi ini entah kenapa waktu tuh berjalan begitu cepat. Sampe-sampe aku kepikiran tentang ntar pas bulan Desember aku bakal nge-wrap up bulan ini dapet pelajaran apa aja yak? Iya, soalnya udah 2 tahun ini aku membiasakan untuk merangkum lesson learned selama 1 tahun dalam suatu tulisan di blog. Pengen mencoba mengcapture hikmah dan kejadian biar lebih diingat sampe nanti udah tua dan mulai pelupa. Bagi yang mau baca boleh banget klik disini (2019) dan disini (2018).

Nah, entah kenapa menurut aku tahun 2020 bakalan jadi tahun yang paling diinget buat semua orang. Bayangin pas Februari, kita bener² kayak nggak nyangka kalo makhluk kecil bernama virus Covid 19 akan ‘meluluhlantakkan’ di Indonesia dari berbagai sektor. Ga cuma dalam sektor perekonomian aja, tapi juga bisa kena di kehidupan personal seseorang. Buktinya angka orang yang depresi, punya masalah kesehatan mental, kekerasan rumah tangga, ibu rumah tangga yang makin pusing ketika harus mengajarkan selama masa pandemi ini justru makin meningkat.

Lanjutkan membaca “Let’s end this year off as best as we can”
Daily Insight

After all, Allah is the perfect planner.

20200611_090453 (4)1695527784869900954..jpg

Jadi pengen cerita deh, tadi aku tuh abis baca postingan Instagram terbarunya Dewi Nur Aisyah tentang gimana perjalanan mba Dewi di tahun 2008 yang memutuskan mengambil jurusan perminatan Epidemiologi yang nggak banyak digandrungi orang-orang. Hingga beliau melanjutkan studi S2 dan S3 membahas tentang infectious disease modelling yang mana itu sangat kepake banget di masa sekarang saat Covid-19 menerjang.

Dalam postingannya, mba Dewi mengingatkan kita untuk jangan pernah berhenti berhusnuzon kepada Allah atas segala tempaan yang terjadi dalam hidup kita.

Sebagaimana perjalanan mbak Dewi dalam mengejar pendidikannya yang itu pasti nggak mudah, hidup di negeri orang, kuliah sambil momong anak, mana jurusannya sedikit yang minat dan masih asing banget, dan banyak lagi kesulitan yang harus dihadapi. Tapi siapa sangka, kesulitan-kesulitan itu ternyata bagian dari cara Allah untuk mempersiapkan mba Dewi menuju medan amal dan kontribusi yang manfaatnya akan jauh lebih besar dan tak ternilai harganya.

Beliau dimintai langsung oleh Presiden Jokowi untuk menjadi tim ahli dalam Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Waw. Sebuah investasi amal yang sangat menjanjikan karena sebuah langkah yang diambil dari tim ahli tersebut bisa menyelamatkan banyak nyawa.

Ini inspiring banget sih dan jadi pengingat banget. Bisa jadi segala masalah, tantangan, kegagalan yang kita hadapi tuh Allah sedang mempersiapkan kita untuk sesuatu yang kita nggak akan pernah sangka sebelumnya.

Ngomong-ngomong tentang rencana Allah itu indah, aku juga punya cerita deh. Yaaa walaupun itungannya receh dan nggak se-wow perjalanan mbak Dewi, tapi buat ajang refleksi diri dan mengingat-ingat kembali perjuangan untuk menjadi pribadi lebih bersyukur lagi gapapa lah yaa.

Lanjutkan membaca “After all, Allah is the perfect planner.”

Self-talk

A Note to Myself: Find Your Sacred Work

Your destiny is discovering and dedicating yourself to a sacred calling. Focusing on your work gives you immense joy and satisfaction. You like to engage as deeply, intensely, and as long as possible.

There’s part of you that’s extremely complex and layered. You’re coming to realize you’re sellout and aren’t swayed by what others want.

Instead, you’re discovering how to honor your own code in life by listening to your instincts rather than the thoughts of others. It’s important that your sense of value isn’t based on the latest trends or on fame, wealth, or status.

You’re not like everyone else; your thinking is different from the mainstream. You have the ability to stay present in the moment and find great pleasure living life according to your own rhythms, purpose, and meaning. Lanjutkan membaca “A Note to Myself: Find Your Sacred Work”

Youth Empowerment

Organisasi Mahasiswa Sekarang Harus Tau Ini

Met pagi! Jujur, gue termasuk orang yang paling gregetan kalo udah ngomongin organisasi mahasiswa. Gemes banget pengen banget ku komentarin deh hahaha.

Pengen cerita, kemaren banget ku abis ketemu sama adik-adik (cielah kek udah tua aja wkwk) dari BEM Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) ex. STKS Bandung. Kita sempet diskusi gitu buat bahas tentang proker, gimana mengimplementasikan program pake pendekatan design thinking, gimana dinamika politik di kampus mereka, gimana peluang dan tantangan mahasiswa kedepannya, apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan dan masih banyak lagi. Hahaha.

Semua obrolannya seru banget dan can relate banget sama pengalaman aku selama di kampus dulu. Keluhan-keluhan yang mereka sampein tuh sama banget kayak keluhan-keluhan yang aku rasain selama 4 tahun berkecimpung di organisasi kampus. Aku seneng banget liat semangat mereka, idealisme mereka. Tapi seringkali semangat dan energi itu nggak mereka turunkan ke dalam sebuah perencanaan yang mateng dan langkah strategis yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Ini yang kemudian bikin aku segregetan itu sama anak-anak organisasi mahasiswa yang kayaknya ya stagnan gitu-gitu weh. Jadi nggak heran kalo kehadiran mereka di organisasi tuh ya dianggap ada dan tiada bagi mahasiswa lainnya dan jangan heran juga ketika makin kesini makin sedikit mahasiswa yang tertarik buat masuk organisasi.

Lanjutkan membaca “Organisasi Mahasiswa Sekarang Harus Tau Ini”