Kecewa

S_5062182356075.jpg

Beberapa waktu yang lalu saya sempat merasa kecewa karena jumlah peserta yang hadir dalam sebuah kajian rutin yang diadakan departemen saya tidak seramai biasanya. Ketika biasanya kajian rutinan tersebut dihadiri hingga 40-an peserta namun pada saat itu jumlah nya tidak mencapai angka tersebut. Kecewa? Oh, jelas..

Adalah sesuatu yang menyedihkan ketika yang terjadi sekarang tidak lebih baik dari sebelum-sebelumnya..

Di sepanjang acara saya terus berfikir, apakah ada yang salah? apakah publikasinya kurang? Ah nggak juga, ga terlalu mepet kok poster nya dan kita udah sounding kemana-mana.. Trus, Kenapa orang-orang pada nggak dateng? Kemana si A? Kemana si B? Kemana si C yang biasanya datang? Kenapa mereka tega nggak dateng? *lah, siapa saya?* Sepanjang kegiatan waktu itu saya terus sempatkan untuk menghitung jumlah peserta yang hadir untuk memastikan sudah sesuai target indikator keberhasilan yang telah tertulis dalam proposal atau belum.. kalo boleh jujur sebenarnya jumlah peserta sudah mencapai target, namun tetep aja saya merasa kecewa karena jumlahnya lebih sedikit dari biasanya.. Hufft

Di tengah rasa kekecewaan saya, tetiba Allah memberikan sinyal jawaban atas kekecewaan ini kepadaku. Kemudian mata saya diarahkan Allah untuk memperhatikan salah seorang mahasiswi yang sedang menyimak materi dengan fokus dan antusias. Ia terlihat terus mengangguk tanda mendengarkan dan mengerti maksud yang disampaikan oleh pembicara tersebut. Secara penampilan ia bukanlah seorang akhwat-akhwat berjilbab syari  yang biasanya memang selalu memenuhi majelis-majelis semacam ini. Dari gaya busananya pun saya bisa mengerti bahwa ia masih hanif. Namun kehadirannya dalam kajian ini dan antusiasnya menyimak materi yang disampaikan selama kegiatan berlangsung membuat saya terkesan. Dan seketika perasaan kekecewaan saya menguap begitu saja. Melalui dia, Allah memberikan saya kesempatan untuk berfikir dan mengambil sebuah pelajaran yang berharga.

Semua kembali kepada niat awal. Benarkah niatnya untuk menghidupkan agama-Nya? Apakah niatnya benar-benar untuk menyampaikan kebaikan? Benarkah niatnya untuk ridho Allah? Kalau iya, kenapa kamu masih merasa kecewa ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasimu? Kenapa kamu masih kecewa ketika yang hadir sedikit dan hanya orang itu-itu saja? Hmm.. masih luruskah niatnya?
Bisa jadi ada yang salah pada diri kita. Bisa jadi, itu pertanda bahwa Allah sudah tak lagi menguasai hati kita dan bukan lagi menjadi niat utama kita. Jangan-jangan niat kita sudah berbelok. Ketika Allah tidak lagi menjadi tujuan utama, maka kekecewaan akan terus mengikutimu. Seharusnya jika memang benar niatnya untuk Allah, sesedikit apapun peserta yang hadir seharusnya tidak akan menyurutkan semangatmu, sebesar apapun rintangan dan tantangan yang kamu hadapi tidak akan menciutkan nyali kamu, dan kamu bisa menghadapi rintangan tersebut dengan lapang dada dan berkata “Allah selalu bersamaku..”. Jika memang benar niatmu untuk Allah, seharusnya kamu mampu meyakinkan dirimu bahwa Allah Maha Mengetahui sekecil apapun usaha dan pengorbanan yang telah kita lakukan untuk menghidupkan agamaNya. Keyakinan itulah yang seharusnya membuat kita mampu bertahan hingga saat ini. Jangan mengeluh. Jadikan Allah sebagai penguatmu ketika kamu merasa lelah dan banyak merasa dikecewakan dalam perjalanan dakwah ini.
Oiya, Bisa jadi Allah tidak menghadirkan orang yang banyak secara kuantitas namun Allah gantikan dengan yang lebih baik walaupun sedikit. Bisa jadi melalui kita, Allah limpahkan hidayah-Nya kepada seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Teruslah berbuat baik. You’ll never know who will follow your footstep and spread kindness. Do it for the sake of Allah and you’ll feel better.
Cukuplah Allah yang jadi saksi. Saya tau kamu kuat.

Saya jadi merasa bersyukur si teteh ini tadi hadir di kajian pada saat itu. Dan saya menjadi yakin bahwa sekecil apapun yang terjadi dalam hidup kita sudah di atur sama yang diatas. Jadi ngebayangin gimana kalo hari itu kajiannya ramai seperti biasanya. Pasti saya pas itu nggak mengkhawatirkan apapun, nggak kecewa apapun, dan akhirnya nggak mikir mendalam tentang hal-hal diatas. Dan saya jadi kepikiran, kalo semisal kemaren yang dateng rame kayak biasanya, pasti ini post kagak akan pernah ada dong ya.. Hehe. Ya gak? Duh, Allah memang tau yang terbaik, lah…

Jatinangor, 15 Oktober 2016
Ditulis oleh Nuha yang lagi ngeliatin to-do-list  yang makin menumpuk
dan udah pada minta di-clear-in satu persatu tapi bingung juga
mana yang harus dikerjain duluan. Heu.
Iklan

Satu pemikiran pada “Kecewa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s